SITUS SEJARAH KEDIRI


1.Petilasan Sri Aji Joyoboyo.

Petilasan ini terletak di Desa Menang Kec. Pagu, sekitar 8 km ke arah Timur dari kota Kediri. Merupakan ternpat dimana Sri Aji Joyoboyo Loka Mukso (hilang bersama jasadnya). Sri Aji Joyoboyo adalah Raja Kediri pada abad XII dan terkenal dengan kitab ” JONGKO JOYOBOYO ” yang berisi tentang ramalan-ramalan kejadian di masa yang akan datang. Setiap 1 Suro di adat yang diadakan oleh Yayasan Hontodento – Yogyakarta bersama dengan Pemerintah Kabupaten Kediri. Pada Obyek Wisata ini para pengunjung bisa menyaksikan bangunan peninggalan Kerajaan Kediri, seperti tempat mukso, bangunan balai – balai dan kuluk setinggi + 4 meter.

2. Arca Totok Kerot.

Merupakan arca berbentuk raksasa wanita berkalung tengkorak dengan tinggi arca + 300 cm, terletak di Dusun Kunir Desa Bulu pasar Kecamatan Pagu + 8 Km ke arah timur dari kota Kediri. Legenda Totok Kerot dimulai dari seorang putri cantik dari Blitar yang melamar Sri Aji Joyoboyo. Karena lamaran ditolak, maka terjadilah pertempuran antara pasukan Lodoyo melawan pasukan Menang. Akhirnya, putri tersebut dikutuk oleh Sri Aji Joyoboyo sehingga berubah wujud patung raksasa wanita berbentuk dwarapala yang dikenal dengan nama TOTOK KEROT.

3. Goa Selomangleng.

Merupakan objek wisata populer di Kotamadya Kediri yang berada di utara kota dan dilengkapi akses jalan raya yang mulus, tersedia angkutan kota dan dekat dengan universitas serta SMA Negeri di Kota Kediri. Dinamakan Selomangleng dikarenakan lokasinya yang berada di lereng bukit (Jawa=>Selo=Batu, Mangleng=Miring), kira-kira 40 meter dari tanah terendah di kawasan. Gua ini terbentuk dari batu andesit hitam yang berukuran cukup besar, sehingga nampak cukup mencolok dari kejauhan.

4.Candi Surowono. 

Merupakan tempat penyucian Raja Wengker yaitu salah seorang Raja Bawahan pada masa Pemerintahan Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit. Berbentuk Bujursangkar dengan ukuran 8 x 8 meter dan didirikan pada 1400 Masehi. Daya Tarik obyek wisata Candi Surowono adalah bangunan candi hasil karya sejarah peninggalan masa lalu dan bangunan terowongan bawah tanah vang dialiri air jernih dengan jalan yang bercabang – cabang cukup banyak yang terletak + 100 meter dari bangunan candi. Candi Surowono, terletak di Desa Canggu Kecamatan Pare, sekitar 25 Km arah Timur Laut dari Kota Kediri

5. SENDANG KAMANDANU

Lazimnya bangunan kerajaan, Kediri juga dilengkapi dengan patirtan yang dalam masanya juga difungsikan sebagai kaputren atau tempat bermain putri-putri raja. Salah satu peninggalan Kerajaan Kediri ini diyakini airnya bisa menyembuhkan segala macam penyakit.

Salah satu peninggalan berupa patirtan dari Kerajaan Kediri dapat  dijumpai di Sendang Kamandanu, yang juga berlokasi di Desa Menang, Kecamatan Pagu, tepatnya sekitar 200 meter sebelah utara Pamuksan Sri Aji Jayabaya. Tidak diketahui secara persis tahun penemuannya, namun saat ini sudah dibangun sebagai salah satu objek wisata, dimana prosesnya juga selesai pada tahun 1983 silam.

Supoyo, juru kunci Sendang Kamandanu mengatakan, lokasi yang dijaganya konon adalah patirtan yang menjadi lokasi bermain putri Sri Aji Jayabaya. Untuk saat ini airnya banyak digunakan sebagai sarana bersuci, bagi siapa saja yang akan berziarah ke Pamuksan Sri Aji Jayabaya.

 “Ini satu paket. Biasanya yang akan ke Pamuksan ya kesini dulu, baik mandi atau sekedar cuci kaki dan tangan,” ungkap Supoyo kepada, detiksurabaya.com, Kamis (27/1/2011).

Karena dianggap satu paket dengan Pamuksan Sri Aji Jayabaya, Sendang Kamandanu juga tercatat pernah dikunjungi orang-orang penting di negeri ini. Bahkan kedatangan tersebut terkadang tak hanya mandi, tetapi juga untuk mengambil air di dalamnya untuk dibawa pulang dengan tujuan tertentu.

“Kalau airnya sama saja dengan air biasa. Tapi yang namanya mempercayai kan boleh saja, dan memang kalau meyakini biasanya akan mujarab,” sambung Supoyo.

Diluar faktor mistis di Sendang Kamandanu yang menjadikan airnya diyakini mengandung manfaat, Supoyo mengungkapkan, di sekeliling bangunan tersebut berdiri sejumlah tanaman yang bisa menjadi sumber pengobatan. Diantaranya pohon akar pule, adhem ati dan mengkudu.

“Nah dari sini kan airnya memang bisa dikatakan berkhasiat sebagai obat. Disini akar-akarnya pohon itu secara langsung bersentuhan dengan sumber air,” tambahnya jelas.

Supoyo, lelaki bertumbuh tambun dengan jenggot yang dibiarkan memanjang tersebut juga mengatakan, kompleks Pamuksan Sri Aji Jaya dan Sendang Kamandanu yang berlokasi di Desa Menang diyakini memiliki daya magis yang kuat karena singkatan namanya. Jayabaya konon dapat diartikan, Yen Pengen Joyo Ing Pamenang, Yen Pengen Ngilangi Beboyo Ing Pamenang. (Jika ingin jaya ya dimulai di Pamenang, dan jika ingin menghilangkan mara bahaya juga dapat mendatangi Pamenang).

“Makanya orang-orang penting itu datang kesini, karena memang disinilai punjer (pusatnya). Pak Bibit (Samad Rianto) saja kalau pulang ke Kediri, hampir pasti datang kesini,” tegas Supoyo.

6. SITUS SEMEN

Desa Semen Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri terletak di sisi utara Kota Kediri. Jaraknya sekitar 15  km dari Kota Kediri. Di desa ini terdapat sebuah situs sejarah yang dinamakan Situs Semen yang jika ditempuh dengan bersepeda angin dari Kota Kediri dapat dicapai sekitar 20-30 menit perjalanan.

Situs ini merupakan peninggalan kerajaan Dhaha Kediri yang berupa kompleks Kolam pemandian dengan tiga buah arca peninggalan di dalamnya. Ketiga arca itu adalah sepasang arca naga yang kemungkinan berfungsi sebagai pintu gerbang kompleks. Patung naga ini kemungkinan juga merupakan sepasang pancuran air, karena terlihat jelas ada bekas saluran air dari belakang arca yang bermuara ke mulut naga.

Arca ketiga adalah sebuah patung berbentuk manusia yang diperkirakan menggambarkan Garuda Wisnu. Kondisi arca ini rusak agak parah karena sisi kepala arca hilang. Arca ini diperkirakan adalah sebuah hiasan ataupun tempat pemujaan pada jamannya. Disebelah timur ketiga arca ini ada sebuah sendang pemandian yang kemungkinan adalah pemandian para bangsawan jaman dahulu.

Karena baru digali dan dipublikasikan tahun 2009, maka kondisi kompleks belum begitu baik. Jalan menuju ke sana berupa jalan sawah / galengan yang jika hujan sangar licin dan becek. Jembatan menuju situs juga masih sangat sederhana berupa jembatan bambu/sesek. Semoga ke depan dapat dipugar dan dapat terlihat konstruksi kompleks bangunan yang diperkirakan masih luas, karena di beberapa tempat ditemukan susunan bata yang merupakan tembok situs pemandian.

7. CANDI TEGOWANGI

Ini adalah tempat ke 2 yang saya kunjungi pada liburan semester, di akhir januari 2011. Kali ini saya mengunjungi situs candi kuno di daerah pegunungan sebelah timur Kab. Kediri yang berbatasan dengan kab. Malang, tepatnya di Desa Tego Wangi, kecamatan Palemahan, Kediri.Candi ini merupakan salah satu peninggalan era kerajaan Majapahit. Jelajah ke tempat bersejarah seperti ini sengaja saya pilih untuk menelaah kehidupan masa lalu yang dapat saya jadikan refrensi di masa ini dan masa yang akan datang. Banyak hal positif yang dapat saya petik dari backpacking budaya ini, salah satunya saya dapat lebih mengenal khasanah luhur budaya bangsa dan menambah pengetahuan secara umum. Dari observasi ini saya dapatkan beberapa data mengenai situs ini ini.

Menurut Kitab Pararaton candi ini merupakan tempat Pendharmaan Bhre Matahun. Sedangkan dalam kitab Negarakertagama dijelaskan bahwa Bhre Matahun meninggal tahun 1388 M. Maka diperkirakan candi ini dibuat pada tahun 1400 M dimasa Majapahit karena pendharmaan seorang raja dilakukan 12 tahun setelah raja meninggal dengan upacara srada.

Secara umum candi ini berdenah bujursangkar menghadap ke barat dengan memiliki ukuran 11,2 x 11,2 meter dan tinggi 4,35 m. Pondasinya terbuat dari bata sedangkan batu kaki dan sebagian tubuh yang masih tersisa terbuat dari batu andesit. Bagian kaki candi berlipit dan berhias. Tiap sisi kaki candi ditemukan tiga panel tegak yang dihiasi raksasa (gana) duduk jongkok; kedua tangan diangkat ketas seperti mendukung bangunan candi. Di atasnya terdapat tonjolan – tonjolan berukir melingkari candi diatas tonjolan terdapat sisi genta yang berhias.
Pada bagian tubuh candi ditengah-tengah pada setiap sisinya terdapat pilar polos yang menghubungkan badan dan kaki candi. Pilar-pilar itu tampak belum selesai dikerjakan. Di sekeliling tubuh candi dihiasi relief cerita sudamala yang berjumlah 14 panil yaitu 3 panil disisi utara, 8 panil disisi barat dan 3 panil sisi selatan. Cerita ini berisi tentang pengruatan (pensucian) Dewi Durga dalam bentuk jelek dan jahat menjadi Dewi Uma dalam bentuk baik yang dilakukan oleh Sadewa, tokoh bungsu dalam cerita Pandawa. Sedangkan pada bilik tubuh candi terdapat Yoni dengan cerat (pancuran) berbentuk naga. Dihalaman candi terdapat beberapa arca yaitu Parwati Ardhenari, Garuda berbadan manusia dan sisa candi di sudut tenggara. Berdasarkan arca-arca yang ditemukan dan adanya Yoni dibilik candi maka candi ini berlatar belakang agama Hindu.

Tempat berikutnya yang akan saya kunjungi adalah daerah pegunugan sebelah timur kab. Jombang dan daerah Jombang Timur yang berbatasan dengan Kab. Mojokerto. Daerah ini dulunya adalah pusat kerajaan majapahit atau dengan kata lain sebagai ibu kota bumi Nusantara di masa lalu.Daerah ini terletak di desa Trowulan. Kabar yang saya terima menyebutkan di daerah ini banyak ditemukan situs kuno bersama dengan artefaknya. Semoga Backpacking berikutnya lebih menantang dan memberikan banyak manfaat bagi saya khususnya dan bagi semuanya pada umumnya.

8. Situs Setono Gedong

Situs Setono Gedong lokasinya berada di belakang Masjid Aulia Setono Gedong, dicapai melalui sebuah gang yang cukup besar di Jl. Doho, Kediri, yang letak dan arahnya berseberangan dengan jalan simpang yang menuju ke arah Stasiun Kereta Api Kediri. Di dekat situs ini juga terdapat kompleks makam keramat yang banyak dikunjungi peziarah.

Sebelum masuk ke kompleks Masjid Setono Gedong, terdapat sebuah gapura yang tidak begitu tinggi namun sangat tebal dindingnya, yang konon sebelumnya merupakan gapura sebuah candi. Sebuah sumber mengatakan bahwa beberapa pihak telah berupaya untuk mempertahankan gapura itu, namun sayang tidak berhasil. Masih beruntung bahwa gapura candi itu tidak dihancurkan, namun hanya dilapis semen sehingga bentuknya pun berubah seperti sekarang ini.

Susunan batu yang ditata berjajar membentuk undakan menuju bangunan pendopo bergaya joglo, yang berukuran besar di sebelah kanan, dan yang berukuran kecil berada di sebelah kiri. Kedua bangunan itu tampaknya belum terlalu lama didirikan.

Susunan batu di bagian bawah yang berwarna kekuningan adalah masih asli, yang menurut sebuah sumber merupakan pondasi sebuah candi dari jaman Kerajaan Kediri, sedangkan yang dibagian atasnya merupakan susunan batu yang ditata kemudian.

Konon di atas pondasi candi itu sempat akan dibangun sebuah masjid oleh para wali. Namun karena alasan yang tidak diketahui, pembangunan masjid itu tidak jadi dilaksanakan. Materialnya konon kemudian digunakan untuk membantu menyelesaikan pembangunan Masjid Demak di Demak, dan Masjid Sang Cipta Rasa di Cirebon.

Area di atas pondasi itu sempat difungsikan sebagai sarana prasarana ibadah, dan tempat pertemuan para wali. Menurut cerita, wilayah Kediri dibagai dalam 2 kelompok oleh para wali. Di Barat sungai di pimpin oleh Sunan Bonang, sedangkan di sebelah Timur sungai dipimpin oleh Sunan Kali Jogo, yang di dalamnya termasuk mbah Wasil yang berasal dari Istambul. Kediri adalah salah satu daerah yang paling akhir di-Islam-kan oleh para wali.

Relief Burung Garuda di Situs Setono Gedong, yang dipahat pada sisi sebuah batu persegi yang bagian atasnya berbentuk bunga teratai yang bulat dan gemuk di tengah berhias garis-garis lengkung, dengan bagian atas rata. Batu di Situs Setono Gedong ini di simpan di bawah bangunan joglo kecil yang berada di sebelah kiri.

Sebuah lingga yang diletakkan di sisi sebelah kanan batu berelief Garuda. Seperti tampak pada foto, bahwa di sisi batu yang berada di belakang lingga ini juga terdapat relief Garuda dengan sayap mengembang, berbeda bentuknya dengan relief garuda pada sisi sebelumnya.

Relief Garuda itu ternyata dipahat pada keempat sisi batu di Situs Setono Gedong ini. Dalam kepercayaan Hindu, Garuda adalah burung yang menjadi tunggangan Dewa Wisnu.

Tumpukan batu-batu berukir, yang diletakkan pada salah satu sisi di kompleks Situs Setono Gedong ini. Jika diperhatikan, batu yang menumpang pada sebelah kiri atas batu yang memanjang, memiliki ukiran relief manusia yang tengah duduk bersila, dengan jari-jari tangan menangkup, sebatas dada, tanpa kepala. Sebuah relief yang lazim dijumpai pada candi.

Sebuah bentuk batu di Situs Setono Gedong yang menyerupai sebuah mangkuk besar yang rata permukaannya, diletakkan di atas sebuah umpak yang ornamennya sudah tidak begitu kentara lagi.

Bangunan pendopo tanpa dinding, dengan atap bersusun tiga, yang disangga lima baris pilar kayu yang masing-masing berjumlah enam buah. Sebelum dibangun pendopo, area ini sempat tidak terurus dan ditumbuhi alang-alang yang tinggi.

Sebuah sumur tua yang letaknya berdekatan dengan situs Situs Setono Gedong, yang mengingatkan saya pada Sendang Tirta Kamandanu.

Situs Setono Gedong merupakan sebuah situs yang sangat menarik buat saya, meskipun masih menyimpan banyak misteri. Tidak ada prasasti bertulis yang ditemukan di sekitar Situs Setono Gedong ini yang bisa mengungkap riwayat situs ini. Hanya ada relief Garuda dan serakan sisa-sisa batu candi, serta cerita-cerita yang memberi gambaran samar mengenai riwayat Situs Setono Gedong di Kediri ini.

About Gani Nur Pramudyo

I will be Succes

Posted on 17 Maret 2012, in Modern Ethnic, Ragam Budaya. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. saya pingin tahu misteri situs arca kepala naga ditimur jembatan lama bandar yang ditutup bangunan. ada yg mau bantu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: